PROGRAM SISTEM KEMUDI OTOMATIS KENDARAAN SEBAGAI
PELUANG BISNIS DUNIA OTOMOTIF
Disusun Oleh :
Fabian Wikan Dj (15.11.9365)
S1 Teknik Informatika 13
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN
KOMPUTER
STMIK “AMIKOM” YOGYAKARTA
2015-2016
BAB I
Pendahuluan
A.
ABSTRAKSI
Kendaraan merupakan
sarana transportasi penting yang dibutuhkan oleh manusia dalam membantu
menjalankan aktifitasnya sehari-hari. Dengan semakin majunya dunia teknologi
dan informatika maka muncullah berbagai macam jenis kendaraan yang dapat
digunakan oleh manusia, baik kendaraan yang hanya dapat digunakan
sendiri(kendaraan pribadi) atau kendaraan yang dapat digunakan secara
bersama-sama (kendaraan umum). Dengan munculnya berbagai jenis kendaraan itulah
timbul suatu masalah dimana pada kota-kota besar sering terjadi kemacetan.
padatnya kendaraan pada kota-kota besar
sering menjadi penghambat seseorang dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari.
Dalam kemacetan itu pun membuat pengemudi menjadi tambah lelah sebelum beraktifitas
bahkan bisa berakibat stress.
Berawal
dari masalah-masalah tersebut maka produsen otomotif terus mengembangkan sistem
teknologi kemudi otomatis atau “autopilot”. Awalnya sistem ini hanya ada pada
pesawat terbang dimana sebuah sistem
mekanikal, elektrikal, atau hidrolik yang digunakan untuk memandu sebuah
kendaraan tanpa campur tangan dari manusia. Dengan adanya teknologi ini manusia
semakin dimanjakan dalam mengemudi kendaraan pribadinya. Lelah dalam mengemudi
akan tergantikan dengan adanya teknologi ini. Dan teknologi ini juga bisa mengurangi
kecelakaan akibat kelalaian pengemudi.
Saat
ini teknologi auto pilot telah dikembangkan untuk pengendalian alat
transportasi bukan hanya di industri tetapi juga secara umum. Automatic Guided
Vehicle (AGV) merupakan suatu pengembangan teknologi di bidang mobile robot.
AGV dapat berfungsi sebagai alat transportasi yang dapat dikendalikan secara
otomatis. Seperti pada pesawat terbang yang menggunakan sistem autopilot untuk
mengendalikan arah penerbangan.
Terdapat
dua hal pengendalian kendaraan yaitu kecepatan dan arah. Sedang untuk
mengendalikan kendaraan di jalan, hal yang perlu di kendalikan adalah,
mengendalikan agar kendaraan berada di jalur yang benar di badan jalan dan
mengendalikan kendaraan agar berjalan menuju kesuatu tempat yang telah ditentukan.
Permasalah yang ada pada AGV tentunya lebih kompleks dibandingkan dengan mobile
robot yang digunakan di industri. Hal ini karena AGV dipergunakan di jalan raya
dengan rintangan yang lebih banyak dan lebih dinamis, juga dengan medan yang
lebih bervariasi. Untuk itu sebelum metode navigasi digunakan pada kendaraan
nyata, perlu simulasi dari metode yang sudah dirancang guna mengetahui sejauh
mana hasil pengendalian yang sudah dirancang apakah sudah sesuai atau masih
perlu diperbaiki guna menghindari terjadinya resiko yang lebih buruk.
Para produsen mobil pun berlomba –
lomba untuk mengembangkan teknologi ini dan menerapkan pada kendaraan yang akan
mereka jual kepada masyarakat. Tentu saja teknologi ini harus mengacu pada
peraturan lalulintas yang berlaku dinegara dan wilayah masing-masing. Seperti
batas kecepatan dan perpindahan jalur. Sensor –sensor adalah piranti utama
dalam penerpan teknologi ini, dimana sensor akan ditempatkan disekeliling
kendaraan agar kendaraan tersebut dapat mengetahui keadaaan disekitarnya. Untuk
pengembangnya para produsen otomotif tersebut melakukan kerja sama dengan
perusahaan IT untuk dapat menjadikan teknologi ini sempurna dan aman digunakan.
B.
TUJUAN
1. Untuk
mengetahui sistem kerja dari perangkat kemudi otomatis.
2. Mengetahui
manfaat yang didapatkan dari pengemudi daris sistem ini.
3. Mengetahui apakah Indonesia dapat
mengadaptasi sistem tersebut.
C. METODE
PENULISAN
Dalam menulis karya ilmiah ini
penulis untuk memberikan tulisannya dan memperoleh data-data adalah dengan
menggunakan beberapa metode sebagai berikut:
1.
Studi
Online :Penulis memperoleh data-data dari online atau dari internet yang mana
memuat beragam data yang berkaitan dengan judul karya ilmiah tersebut.
2.
Melakukan
survey terhadap pabrikan otomotif
yang telah merintis teknologi ini.
3.
Mengkaji
kelebihan dan kekurangan dari sistem ini jika diterapkan terhadap industri
otomotif.
BAB II
Pembahasan
Prinsip kerja
Mobil Auto Pilot car ini adalah : sensor laser yang dipasang di mobil akan
mendeteksi garis putih di tepi jalan dan tengah jalan sebagai pemandu mobil
agar berada di jalur yang benar. Selain itu, sensor laser tersebut juga
mendeteksi penghalang dan kendaraan lain di depan mobil, sehingga akan
melakukan pengereman perlahan berdasarkan jarak dan kecepatan mobil terhadap
object didepan, sehingga kemungkinan terjadinya tabrakan sangat kecil.
Teknologi ini juga mampu melakukan parkir otomatis dan gerakan mundur dengan
sempurna berdasarkan sensor-sensor yang dipasang, dan sepenuhnya auto pilot
atau otomatis tanpa perlu campur tangan sang pengemudi.
Teknologi ini
masih terus dikembangan dan di uji coba agar menjadi layak dan aman saat
digunakan dalam situasi lalu lintas yang sebenarnya. Perusahaan yang bekerja dalam dunia komputer
atau informatika pun turut ambil bagian dalam pengembangan teknologi ini.
Google sedang mengembangakan teknologi tersebut dan menjelaskan beberapa sistem
kerja yang dipakai dalam teknologi ini. Alat utama dari teknologi yang
dikeluarkan google adalah finder laser yang dipasang pada atap mobil.
Perangkatnya, sebuah VELODYNE 64-sinar laser, menghasilkan peta 3D rinci pada
lingkungan tersebut. Mobil itu kemudian menggabungkan pengukuran laser dengan
resolusi tinggi peta dunia, memproduksi berbagai jenis model data yang
memungkinkan untuk drive itu sendiri sambil menghindari rintangan dan
menghormati undang-undang lalu lintas.
Kendaraan
tersebut juga membawa sensor lain, yang meliputi: empat radar dipasang di
bumper depan dan belakang yang memungkinkan mobil untuk "melihat"
cukup jauh untuk dapat berurusan dengan lalu lintas cepat pada jalan raya,
kamera diposisikan dekat bagian rear-view cermin yang mendeteksi lampu lalu
lintas, dan GPS, inertial measurement unit dan encoder roda yang menentukan
lokasi kendaraan dan melacak gerakannya. Dua hal tampakyang sangat menarik
tentang pendekatan Google. Pertama, hal itu bergantung pada peta yang sangat
rinci dari jalan dan daerah, Urmson mengatakan bahwa sangat penting untuk
menentukan secara akurat di mana mobil. Menggunakan teknik berbasis GPS saja.
Hal kedua, sebelum
mengirim self-driving car mengemudi di tes pada jalan, Teknisi Google
mengemudikannya terlebih dahulu di sepanjang rute satu atau lebih dari sekali
untuk mengumpulkan data tentang lingkungan tersebut. Ketika giliran kendaraan
otonom untuk mengemudi sendiri, ia akan membandingkan data yang diperoleh ke
data yang sebelumnya dicatat, suatu pendekatan yang sangat berguna untuk
membedakan pejalan kaki dari benda-benda diam seperti tiang dan kotak surat.
Itulah beberapa sistem kerja yang akan terus dikembangkan oleh beberapa
perusahan otomotif dan informatika.
Dari penjelasan tentang sitem kerja
dari teknologi auto pilot atau self driving tersebut memang belum ada yang
dijual untuk umum karena masalah keamanan yang belum sepenuhnya bisa diterapkan
pada lalulintas. Tetapi apakah Indonesia bisa menerima kehadiran teknologi
canggih tersebut dengan kondisi lalu lintas seperti sekarang ini? Mungkin butuh waktu untuk menerima sepenuhnya
kehadiran teknologi tersebut dinegara kita, seperti contohnya dalam teknologi
tersebut memerlukan garis putih yang biasa digunakan sebagai marka jalan atau
pembatas jalan sebagai acuan dalam sensor untuk membaca situasi tersebut. Dan
pada kenyataanya diindonesia sendiri masih banyak jalan yang tidak dilengkapi
dengan marka-marka yang jelas, sehingga teknologi tersebut masih perlu banyak
beradaptasi dinegara ini. Selain
itu faktor kebiasaan dari pengemudi itu sendiri, di Indonesia masih belum
sepenuhnya diterapakan sangsi bagi pelanggar batas kecepatan. Sedangkan teknlogi
ini sangat mengutamakan kecepataan pada kendaraan dan jarak aman yang sesuai
agar sistem ini dapat bekerja dengan aman.Serta masih banyak pengendara di
Indonesia khusunya Jakarta yang sering menyerobot antrian atau memotong lajur
dengan tidak aman. Hal ini akan membuat sensor-sensor tersebut menjadi sulit
mendeteksi jarak aman dan berakibat pengeraman mendadak yang dapat menyebabkan
tabrakan beruntun.
Akan
tetapi dari kemungkinan gagalnya penerapan sistem tersebut pada budaya lalu
lintas dinegara Indonesia yang masih buruk. Masih bisa dilakukan pembenahan
dalam sektor lalu lintasnya. Karena rencana peluncuran teknlogi tersebut masih
dalam jangka 5 tahun lagi. Dan Negara maju seperti Amerika dan Inggris
berencana untuk membuat SIM khusus bagi pengguna fitur ini.
BAB III
Penutup
A.
KEIMPULAN
Teknologi
kemudi otomatis yang sesungguhnya masih dalam tahap pengembangan, akan tetapi
adaptasi terhadap teknologi tersebut mulai bisa diaplikasikan pada beberapa
tipe mobil yang sudah beredar. Dengan adanya teknologi ini diharapkan tingkat
kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian pengemudi akan jauh berkurang. Akan
tetepai dengan melihat sistem kerja yang telah dipaparkan oleh beberapa media
ke masyarakat luas sepertinya fasilitas umum yang ada perlu mendapat perhatian
khusus. Sebab sistem sensor yang bekerja dengan deprogram dan sangat rentan
terhadap beberapa kasus yang sensitive. Seperti contoh marka jalan / garis
putih yang sudah memudar warnanya.
B. REFERENSI

0 Comments